BANTUL, Imogiri (05/02/2026) Pemandangan berbeda tampak di ruang-ruang kelas SMPN 1 Imogiri, Bantul. Jika pada hari-hari biasa bangku sekolah dipenuhi seragam biru-putih, kali ini para siswa hadir dengan balutan pakaian adat Jawa. Kain jarik, beskap, dan kebaya lurik mendominasi suasana kelas, menghadirkan nuansa tradisi yang kental tanpa mengurangi semangat belajar.
Di balik balutan busana adat tersebut, aktivitas belajar tetap berlangsung seperti biasa. Para siswa tampak tekun mengerjakan tugas, sesekali mengangkat kepala untuk menyimak penjelasan guru. Tidak ada kesan canggung atau terganggu—justru ketenangan dan keseriusan terpancar dari raut wajah mereka.
Tradisi Berbalut Edukasi
Penggunaan pakaian adat Jawa ini merupakan bagian dari upaya SMPN 1 Imogiri dalam menanamkan nilai-nilai karakter sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini. Di tengah gempuran tren modern dan gaya berpakaian kekinian, pemandangan siswa belajar dengan busana tradisional menghadirkan kontras yang sederhana namun indah.
Di barisan depan kelas, seorang siswa terlihat fokus menatap lembar tugasnya. Di sekelilingnya, teman-teman lain menunjukkan konsentrasi yang sama. Suasana kelas terasa semakin sejuk dengan dinding berwarna hijau cerah dan lukisan pohon yang menghiasi ruangan, menciptakan lingkungan belajar yang asri, tenang, dan mendukung fokus siswa.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas simbolik, melainkan bagian dari pembelajaran nilai. Melalui kebiasaan mengenakan pakaian adat, siswa diajak memahami makna kesederhanaan, ketertiban, serta penghargaan terhadap warisan budaya leluhur.
Poin Menarik dari Kegiatan Ini:
Kedisiplinan
Mengenakan busana adat membutuhkan ketelatenan dan persiapan lebih, yang secara tidak langsung melatih siswa untuk lebih disiplin dalam mempersiapkan diri sebelum berangkat ke sekolah.
Identitas Lokal
Imogiri yang dikenal sebagai wilayah sarat sejarah Kerajaan Mataram menjadi latar yang kuat bagi siswa untuk mengenal, memahami, dan bangga terhadap identitas daerahnya.
Kenyamanan Belajar
Meski mengenakan pakaian tradisional, proses belajar-mengajar tetap berjalan efektif dan interaktif, membuktikan bahwa kenyamanan belajar tidak ditentukan oleh jenis pakaian.
“Belajar bukan soal apa yang kita pakai, tapi soal keinginan besar untuk tahu. Memakai baju adat justru membuat kami merasa lebih tenang dan punya jati diri,” ujar salah satu siswa di sela waktu istirahat.
Melalui kegiatan rutin seperti ini, SMPN 1 Imogiri menunjukkan bahwa pendidikan modern dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan karakter, identitas, dan kebanggaan terhadap budaya bangsa.

0 Komentar